Rabu, 11 Januari 2017

Kekristenan dan Fanatisme Agama


Gejala-gejala hingga aksi fanatisme agama telah tampak nyata di Indonesia. Fanatisme beragama terwujud dalam kebencian terhadap perbedaan. Kata-kata makian hingga ancaman keluar begitu saja demi membela agama. Aksi teror mengatasnamakan agamapun hadir hingga merenggut nyawa manusia.

Fanatisme beragama ini semakin terlihat ketika dan setelah isu penistaan agama yang dilakukan gubernur Jakarta. Mereka mengatasnamakan kebhinekaan dan persatuan NKRI. Walaupun demikian, rasa benci terhadap yang berbeda identitas tidak bisa disembunyikan.

Yang menarik setelah berbagai fenomena yang tampak di permukaan, berbagai reaksi pula hadir dari berbagai kalangan termasuk kalangan kristen. Saya yang tinggal dalam lingkungan sekolah teologi melihat upaya penyuaraan terhadap keberagaman. Parade budaya dari beragam latar belakang etnis ditampilkan pada acara desa di daerah kami.

Reaksi pula muncul dari tokoh-tokoh agama. Ada yang jarang menulis status di FB atau Twitter mengenai realitas sosio-politik di Indonesia tiba-tiba menyuarakan keberpihakannya. Padahal biasanya hanya menulis ajaran-ajaran moral ataupun kata-kata motivasi yang selalu tak kugubris.

Di samping dampak yang buruk oleh fanatisme agama ini, adapula dampak baik yang dapat di petik. Ada yang dulunya mungkin tidak mau tahu terhadap kondisi sosio-politik di Indonesia dipaksa harus tahu. Ada yang dulunya mencoba netral dipaksa untuk berpihak - sekalipun yang terlihat hanya berpihak pada Ahok -. Semua ini terjadi karena permasalahan diberitakan di televisi dapat juga dialami kapan saja dan oleh siapa saja. Bisa saja aksi pemboman terjadi di Malang tidak di Samarinda, demikian juga dengan pelarangan ibadah ataupun pemboikotan makanan hingga anti sana dan sini.

Jika melihat reaksi dari kalangan kristen maka suara-suara yang dikumandangkan lebih banyak menyangkut penerimaan terhadap perbedaan. Akar masalah yang terjadi disini bisa jadi hanya mengenai isu ajaran agama yang keliru. Ajaran agama yang menjadi bibit fanatisme ini harus dilawan dengan ajaran lain yang lebih terbuka terhadap perbedaan.

Bibit fanatisme yang timbul dari ajaran agama yang keliru tentu bisa saja diterima. Namun tidak bisa juga dipungkiri, fanatisme agama yang dapat berwujud aksi terorisme diawali juga dari ketidakpuasan kondisi ekonomi-politik yang ada di Indonesia bahkan dunia.

Ketidakpuasan terhadap tatanan ekonomi-politik yang ada di Indonesia dapat menjadi lahan yang subur bagi bibit fanatisme agama. Kondisi kesenjangan ekonomi yang tidak dapat dipungkiri, perampasan tanah demi infrastruktur dan industrialisasi yang terjadi, rumah-rumah orang miskin yang digusur hingga politik oligarki yang menjadi permasalahan negeri tampak nyata di depan mata.

Hal ini terlihat oleh aksi Rachmawati Soekarnoputri dan juga kawan-kawan lainnya yang ditangkap akibat isu makar, mereka mengambil celah ini. Mereka kemudian ingin memberikan alternatif melalui kembali pada UUD 1945 yang asli. Adapula yang ingin memberikan alternatif dengan mendirikan negara Islam seturut dengan syariat Islam.

Melihat ini tentunya dengan berbagai ajaran dan aksi fanatisme yang terjadi tidak sepenuhnya akibat ajaran agama yang keliru. Ajaran agama yang keliru itu adalah bagian dari elemen lainnya, yakni ketidakpuasan terhadap ekonomi-politik yang ada. Permasalahan itu nyata dan banyak yang menderita akibatnya.


Yang patut di tunggu adalah bagaimana reaksi kristen terhadap faktor ekopol tersebut. Jika hanya mengangkat isu mengenai kebhinekaan, keharmonisan, pluralisme bisa jadi hanya aksi-aksi reaktif yang akan selalu kita temui dan saksikan dari kalangan kristen.   

Minggu, 01 Januari 2017

Pertentangan Paulus dengan Kaisar


Disamping kontribusinya yang banyak dalam penulisan kitab-kitab Perjanjian Baru, Paulus juga banyak memberikan inspirasi bagi pergerakan misi. Berdasarkan surat-suratnya dan juga kisah tentangnya, banyak orang ingin mempelajari strategi, metode hingga praktek bermisi ala Paulus.

Sekalipun begitu, teladan misi yang dipungut seringkali hanya sekisaran pertambahan jemaat, pemberitaan Injil, praktek apologetik namun jarang yang melihat aspek politis apalagi melalui pertentangannya dengan kekuasaan atau pemerintahan.

Kaitan antara ajaran Paulus dan pemerintah biasanya hanya berdasarkan Roma 13:1 yang menjadi ayat favorit utuk menjawab etika politik kristen: "Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah."

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan perintah tersebut, tetapi jika itu melegitimasi untuk diam di tengah kenyataan pemerintahan yang tidak adil, maka tentunya harus dipertimbangkan ulang. 

Antara Stoa, Epikurus dan gerakan kaum Zelot

Di tengah konteks kehidupan yang dihadapi Paulus ada dua ekstrim sikap terhadap pemerintah. Sikap yang pertama adalah melakukan perlawanan melalui tindakan radikal. Mereka ini adalah kaum Zelot. Mereka akan melakukan apapun untuk merebut kekuasaan, baik itu dengan aksi kekerasan dan terorisme. Yang kedua adalah gerakan menarik diri ala Stoa dan Epikurus. Mereka bersikap apolitis, membenci bahkan menjauhi masyarakat. Pemerintahan bagi mereka adalah hal yang kotor dan duniawi sehingga harus dihindari.

Di tengah kedua ekstrem tersebut hadirlah tulisan Roma 13:1. Paulus menyatakan bahwa pemerintahan bukanlah sesuatu yang kotor dan harus dijauhi, pemerintah itu berasal dari Allah. penyataan Paulus itu sangat mungkin ditujukan kepada mereka yang terjangkit ajaran Stoa dan Epikurus. Taat kepada pemerintah bukanlah hal kejahatan, karena pemerintahanpun berasal dari Allah.

Namun di sisi lain, di tengah pemberhalaan kepada Kaisar pada zamannya, Paulus juga memberikan perlawanan. Yesus Kristus yang diberitakan itu berdimensi konfrontatif terhadap  tatanan pemerintahan yang ada.

Pemberitaan Yesus

Yesus adalah yang diurapi, dia sebagai mesias yang menjadi paket khotbah dalam misi Paulus. Pemberitaannya ini mengandung bahaya karena istilah ini memiliki konotasi politis: Dia akan menjadi raja dan penguasa.

Kematiannya tidaklah membuktikan pergerakannya gagal. Ia adalah Tuhan yang bangkit dan berotoritas yang patut ditaati, entah itu orang Yahudi, Yunani atau Romawi.

Hal ini tentunya bertentangan dengan kultus kaisar. Eckhard Schnabel, dalam buku Rasul Paulus sang Misionaris, menuliskan bahwa semua orang di daerah jajahannya diwajibkan ikut dalam penyembahan kepada Kaisar. Ia juga menggambarkan perayaan tahunan yang dilakukan untuk menghormati kaisar, namun Paulus mengharapkan jemaat di Korintus untuk tidak menghadiri pesta tersebut (1 Kor. 8:4-6; 10:21).

Selain itu juga ia menyerang legitimasi keputusan pemerintahan Romawi ketika menyatakan kebangkitan Yesus. penegasan bahwa kematiannya di kayu salib adalah rencana keselamatan Allah dimaknai sebagai Pilatus alat Allah. Jika Yesus adalah juruselamat seharusnya penguasa Romawi di provinsi Yudea tidak menyalibkan Dia.

Ada pula pemberitaan Yesus yang disalibkan, bangkit dan dinantikan bertentangan dengan tatanan kota karena struktur egaliternya, tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan. Dengan tatanan hirearkis yang menekankan keallahan sang Kaisar dan anggota keluarga kaisar maka iman dan ketaatan kepada Yesus yang disalibkan adalah kriminal.

Melihat hal ini, Paulus tentunya tidak mengajarkan bahwa kita harus pasif di tengah kelaliman dan ketidakadilan pemerintah. Yesus yang diberitakannya juga melawan tatanan hidup yang tak seimbang. 

Melihat pemerintahan yang tidak adil juga menuntut kita bertanya, seperti yang Petrus dan Yohanes tanyakan, “mana yang benar: taat kepada manusia atau kepada Allah?”. Ketika kita coba tarik sedikit dalam konteks kita, melihat para petani direnggut tanahnya, orang miskin digusur, pelanggaran HAM diabaikan, kekayaan yang dimonopoli segelintir orang apakah ini sudah melawan ketetapan Allah atau justru kita berdalih ini hanya sekadar perspektif?


Minggu, 11 Desember 2016

Pesan Natal dari Malang



Saya mengikuti ibadah natal pertama pada di tahun ini pada tanggal 11 desember. Natal di kota malang, di hari minggu, pagi.

Seperti biasa setiap ibadah tentunya ada elemen khotbah. Khotbah memiliki bobot yang tinggi dalam ibadah, setidaknya itu yang diyakini tokoh reformatoris. Khobah pada hari natal biasanya lebih spesial. Selain isinya yang seputaran kelahiran Yesus, pembicaranya juga berasal dari luar.

Khotbah pada hari itu dibawakan oleh dosen dan pengajar homiletika di salah satu sekolah teologi di Malang. Jika dibandingkan dengan Ps. Gilbert L, pengikutnya di twitter tidak seberapa, seribuan orang. Jika dia menulis status ataupun memasukkan gambar di fb penyukanya seringkali mencapai 600-an orang, sangat banyak jika dibandingkan dengan fb saya. Setidaknya itu menggambarkan sedikit tentangnya.

Khotbah di bawakan dengan berlatar Matius 1:1-17. Pesan yang dibawakan adalah Allah memulihkan umatnya. Umatnya mengalami damai, bahagia, sejahtera dari dalam dirinya. Pemulihan yang memutus ikatan dosa yang biasa dikenal dosa individual. Allah tidak memulihkan ekonomi, kesehatan, politik atau hal luaran lainnya.

Pertanyaannya adalah apakah kelahiran Yesus di dunia hanya bertujuan demikian? Apakah Yesus abai dengan dosa struktural?
                                   
Dosa

Dosa merupakan natur dan pelanggaran terhadap hukum Allah. Pelanggaran pertama kali dilakukan oleh adam dan Hawa (dosa asal). Mereka berdosa dan naturnya menjalar ke seluruh manusia. Akibatnya manusia telah berdosa sekalipun masih dalam kandungan (Mazmur 51:5). Manusia juga berdosa ketika ia berpikir, berkata dan berperilaku tidak sesuai dengan hukum Allah (dosa aktual).

Dosa ini mengakibatkan gambar dan rupa Allah rusak. Manusia rusak total (total depravity) secara spiritual namun ia dapat melakukan perilaku moral yang sesuai dengan hukum Allah (kebaikan alamiah, kebaikan sipil, kebaikan agamawi). Walaupun perilakunya baik namun tidak benar di mata Allah (Roma 3:10). Tetapi tidak berarti apa yang baik tersebut Allah tidak kehendaki. Umat Niniwe dituntut Allah untuk bertobat melalui seruan nabi Yunus, pertobatan tersebut dalam artian perilaku moral karena umat Allah bersifat partikularistik, eksklusif bagi bangsa Israel.

Dosa tersebut merusak hubungan manusia dengan Allah, dirinya sendiri, sesama dan lingkungan. Keterpisahan manusia dengan Allah menyatakan kematian rohani. Manusia juga bergelut dengan dirinya tentang pemikiran, nafsu dan keinginan. Manusia menjadi serigala bagi sesamanya, saling memangsa demi kepuasan. Lingkunganpun menerima akibat, dengan habis dibabat.

Dosa individual (dosa asal dan aktual) diakui dalam tradisi ajaran Injili. Dosa tersebut merambat pada struktur sosial kehidupan yang dibentuk manusia, baik itu ekonomi, politik, hukum, sosial, budaya. Dosa tersebut melembaga dan berbentuk sistem. Dosa itu tidak lepas dari penilaian Allah. Kebijakan-kebijakan yang tidak adil, mempermiskin, memperbodoh, menindas, mengintimidasi bertentangan dengan hukum Allah.

Dalam Kitab-kitab Perjanjian Lama, umat Allah diberi larangan membebankan bunga kepada orang miskin. Juga hukum yang melindungi supaya orang tidak menjadi miskin, yaitu dalam peraturan tahun Sabat dan tahun Yobel. Dalam peraturan-peraturan tersebut sangat jelas kaitan antara norma-norma sosial dan motivasi-motivasi religius saling mendukung untuk mentransformasi struktur sosial-ekonomi yang menindas masyarakat. Asumsi teologisnya adalah, bahwa Allah adalah Pembebas yang telah membebaskan umat-Nya supaya mereka juga membebaskan sesamanya. Allah menghukum mereka yang mencatut dan memberi bunga atas pinjaman yang diberikan kepada orang miskin (Yehezkiel 22:12). Nabi-nabi juga mencela pembagian tanah yang tidak adil ketika penguasa-penguasa merampas tanah rakyat dan mengusir mereka ke perbatasan (Hosea 5:10; Yesaya 5:8).

Kehadiran Yesus

Yesus hadir ke dunia tidak hanya menyimbolkan Allah yang ingin menyelamatkan manusia berdosa. Allah juga memberi teladan dan bersolidaritas terhadap manusia yang berdosa. Ia pernah merasa ditinggalkan oleh Allah (Mat. 27:46). Ia pernah merasakan konflik dengan dirinya sendiri (Mat. 26:38). Ia juga hidup menjadi dan bersama orang yang menderita akibat tatanan masyarakat.

Dosa itu hadir melalui satu orang tetapi berdampak sosial-struktural. Struktur yang dibentuk oleh manusia namun juga mengkondisikan manusia. Penderitaan tidak hanya ada di dalam ruang batin tetapi juga akibat tatanan masyarakat yang tidak adil. Yesus datang ke dunia menghadirkan teladan. Ia menyuarakan pembebasan terhadap dosa. Suaranya seperti pedang bermata dua, yang menusuk ke dalam pertimbangan dan pemikiran manusia (Ibr. 4:12). Tetapi suaranya juga mengganggu tatanan masyarakat. oleh karenanya, orang yang diuntungkan dengan tatanan tersebut (penguasa, alim ulama dan orang kaya) seringkali berseteru dengan Yesus.

Dalam Perjanjian Lama, tindakan Allah membebaskan umat-Nya yang tertindas merupakan tindakan melayani (diakonein), sedangkan dalam Perjanjian Baru, kedatangan Yesus ke dunia adalah bertujuan untuk melayani (diakonein). Jadi pelayanan adalah suatu tindakan yang berorientasi pada tindakan Allah yang menyelamatkan, sehingga manusia akan menentukan kehidupan yang sejati sebagai gambar Allah.

Dasar alkitabiah kita sangat kuat untuk mendukung pembebasan terhadap orang-orang tertindas dan sengsara, seperti orang miskin dalam ikatan struktur yang tidak adil. Hal ini juga yang seharusnya menjadi dasar umat kekristenan meneladani praksis tersebut. 

Pembebasan yang Yesus inginkan bersifat menyeluruh (individual dan struktural) tetapi belum sepenuhnya terlaksana. Pembebasan penuh akan terjadi di kedatangan Yesus ke dua (Kis. 1:7). Apakah Yesus menginginkan kesejateraan ekonomi, politik, kesejahteraan jasmani, dsb.? Ya, Dia ingin. Tugas manusia sekarang adalah menjadi saksinya sampai ke ujung bumi (Kis. 1:8). Saksi kepada manusia yang terjerat dosa.

Lalu bagaimana dengan tatanan masyarakat saat ini? Apakah kesaksian juga perlu sampai ke tahap itu? tentunya perlu, jika tatanan masyarakat tersebut tidak adil, hanya untuk kepentingan segelintir orang.

Konteks Masyarakat Kita

Indonesia mengalami kemajuan dalam kesenjangan ekonomi. 1% orang Indonesia hampir menguasai 50% kekayaan negara. Ketidakadilan sosial terpampang jelas di wajah kita. Keadilan sosial yang tertera dalam Pancasila sekadar hiasan.

Banyak orang-orang menderita akibat tatanan yang tidak adil. Ketidakadilan tersebut tidak hanya ekonomi namun sejalan dengan politik. Orang-orang kayalah yang menguasai demokrasi Indonesia. tidak perlu referensi dan analisa ketat untuk mengetahuinya.

Dosa tentunya telah mengakar secara struktural. Pemulihan ekonomi-politik pun juga Allah inginkan. Membebaskan orang yang menderita akibat diusir dari tanahnya, direbut hak-haknya, digusur dari rumahnya, direnggut nyawanya merupakan maksud Yesus datang ke dunia. Entah bagaimanapun solusinya namun pengabaian terhadap hal ini juga merupakan pengabaian pesan natal itu sendiri.



Minggu, 27 November 2016

Benci



Ekspresi kebencian dapat ditemui di keseharian. Melihat berita di tv, membaca koran, berselancar di media sosial, hingga relasi keseharian dapat tampak wajah kebencian yang biasa dipertotonkan. Kebencian terhadap agama, suku, ras dan antar golongan bisa dipicu hanya akibat perbedaan. Kata-kata makian hingga tindakan kekerasan merupakan ekspresi yang terlihat.

Biasa juga dikabarkan orang-orang mengerumuni pencuri hanya untuk berlomba untuk menghadiahi pukulan. Di keseharianpun terkadang hal sepele bisa memicu kebencian, masalah pinjam-meminjam bolpen hingga meminta kertas untuk mencetak tugas dapat memicu sumpah serapah ketika di bangku kuliah.

Kebencian itu mudah ditemukan dan bisa hadir kepada siapa saja. namun, kebencian itu menguras waktu, pikiran dan tenaga. Yesus mengajar tentang berdamailah dengan saudara sebelum melakukan ritual ibadah di dalam Matius 5:23-24:

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.”

Berdamai dengan saudara adalah lingkaran orang-orang dekat, tetapi Yesus memberi teladan juga untuk berdamai dengan siapapun bahkan dengan orang-orang yang tidak dikenal dan membenci kita. Ketika Yesus disalib ia dapat berdamai dengan orang-orang yang mengutuk, mengadili hingga yang menghujam paku di tangan dan kakinya. Yesus mengampuni mereka karena mereka tidak tahu apa yang diperbuatnya.

Gus Mus yang belum lama ini diberitakan di cerca di media sosial pun telah meneladankan untuk berdamai dengan orang yang mencercanya. Kebencian memang mudah timbul di tengah harga diri yang begitu tinggi. Harga diri bisa dibalut dengan agama, suku, ras dan antar golongan atau kepentingan-kepentingan untuk melegitimasi kebencian.

Yesus hadir ke dunia dengan mengosongkan dirinya agar menjadi sama seperti manusia. Yesus tidak hanya merendahkan diri tetapi meniadakan dirinya untuk menunjukkan kasihnya dan solidaritasnya kepada manusia yang menderita akibat dosa. Di tengah duniapun ia meleburkan dirinya dengan orang-orang yang paling hina dan terpinggirkan. Yesus meleburkan diri dengan orang Samaria, pemungut cukai, pelacur, penyakit kusta, orang-orang miskin dengan cara hidup bersama mereka, merasakan apa yang mereka rasakan dan berada dipihak mereka.

Melalui peleburan diri dengan mereka yang paling hina dan terpinggirkan, kebencian yang berbuah dari benih harga diri yang tinggi tidak akan bertumbuh subur. Ia seperti ditanam di tanah yang kering. Kitapun tidak lagi disibukkan oleh masalah-masalah sepele yang bisa menghabiskan waktu sebagian hidup kita akibat rasa benci.

Jumat, 25 November 2016

Keberpihakan Kristen


Mengasihi sesama manusia tentu itu ada di setiap ajaran agama. Dalam ajaran kristen, perintah itu merupakan perintah utama yang merupakan inti dari hukum taurat. “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu... kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”, kata Yesus untuk menjawab pertanyaan ahli Taurat mengenai perintah yang paling utama.

Perintah mengasihi sesama manusia ini sendiri telah diteladani Yesus melalui kehidupannya. Yesus mengasihi terutama bagi mereka yang berdosa, miskin dan terpinggirkan. Yesus mengasihi mereka yang berbeda agama dan suku yang seringkali menjadi tembok pemisah sosial di dalam masyarakat. Yesus mengasihi tanpa memandang SARA.

Ajaran kasih itu pula hadir di setiap tulisan pastoral Paulus kepada jemaat-jemaat yang tersebar di berbagai tempat. Namun yang menariknya ada kalimat di salah satu surat Paulus mengenai perbuatan baik terhadap semua orang tetapi diutamakan kepada kawan-kawan yang seiman (Gal. 6:10).

Di dalam tradisi teologi kristen ada yang mengajarkan untuk mengutamakan mereka yang miskin dan terpinggirkan untuk menyalurkan kasih. Teologi ini biasanya lahir di tengah konteks ketidakadilan sosial yang sebagian besar ada di dunia ketiga ataupun bagian Selatan. Teolog-teolog dan pemuka agama menyuarakan suara mereka yang tidak didengar untuk memperjuangkan keadilan layaknya para nabi. Kritik profetis ditujukan kepada mereka yang berkuasa dan yang melanggengkan penindasan.

Kegaduhan politik

Di tengah kegaduhan politik di Jakarta menjelang pemilihan gubernur, kegaduhan semakin menguat ketika Ahok terlibat kasus penistaan agama apalagi ia telah ditetapkan sebagai tersangka. Berbagai respon masyarakat bermunculan, entah itu yang mendukung ataupun bersimpati kepada Ahok hingga yang ingin secepatnya memenjarakan Ahok.

Kegaduhan politik di Jakarta ini meredam berbagai suara-suara lain yang terjadi di Indonesia. Kasus mengenai penangkapan para aktivis di Papua dan para petani yang dirampas tanahnya oleh negara kalah seksi dibandingkan kasus Ahok. Padahal mereka inilah mewakili suara-suara yang ditindas dan terpinggirkan.

Identitas Ahok yang beragama kristen memang seringkali menjadi pijakan keberpihakan orang-orang kristen. Hal ini tampak dari dukungannya di media sosial yang menyandingkannya dengan Yusuf bahkan Yesus sendiri. Ahok dianggap orang benar yang mengalami derita karena imannya. Apalagi dengan ajaran Paulus untuk mengutamakan orang-orang beriman, semakin kuatlah pegangan orang kristen untuk mengutamakan Ahok.

Mengenai iman

Iman diberikan Allah kepada manusia itu merupakan anugrah Allah bukan karena perbuatan manusia. Sebagian besar tradisi teologi kristen tentunya meyakini ini. Namun, iman itu sendiri tidak berwujud materi, manusia yang dianugrahkan Allah iman hanya Allah sendiri yang mengetahuinya. Di dalam pengetahuan Allah yang kekal, 

Allah telah mengenal dan mengetahui umat pilihanNya di segala tempat dan di sepanjang zaman, tetapi bagi manusia itu merupakan misteri.
Manusia dapat salah menilai terhadap iman orang lain. Orang yang dulunya rajin ibadah, rutin mengikuti kegiatan agama, namun ternyata dapat meninggalkan imanya, seperti kisah Himeneus dan Filetus dalam surat Paulus kepada Timotius.

Penilaian yang salah terhadap orang lainpun mungkin terhadap diri sendiri. Perasaan, pikiran dan kehendak manusia sudah tercemar oleh dosa dan rentan akan salah. Yesus pernah memberikan perumpamaan mengenai hari terakhir, mereka yang tidak masuk dalam sorga terkejut ketika di penghakiman terakhir karena mereka telah bernubuat, mengusir setan hingga melakukan banyak mujizat demi Tuhan tetapi tetap ditolak (Mat. 7:22).

Iman tidak hanya di terwujud melalui kata namun juga melalui perbuatan. noticia (pengertian/pengetahuan), asensus (persetujuan) dan fiducia (ketaatan kepada kebenaran) tidak bisa terpisah untuk menggambarkan pengertian iman. Iman tanpa perbuatan pada dasarnya mati seperti dituliskan dalam surat Yakobus.

Iman dinyatakan melalui perbuatan telah diajarkan oleh Yesus melalui keberpihakannya kepada orang miskin, terpinggirkan dan tertindas. Ketika Yesus ditanya oleh ahli Taurat tentang siapakah sesama manusia, Yesus menceritakan kisah orang Samaria yang murah hati. 

Orang Samaria di zaman itu menyimbolkan orang yang terpinggirkan dan tertindas dalam konteks agama, sosial, politik. Sesama manusia justru ditujukan kepada orang Samaria, bukan orang lewi ataupun imam yang digambarkan Yesus tidak peduli terhadap penderitaan sesama manusia.

Beriman tidak hanya melalui kata namun juga perbuatan. Perlawanan teman-teman di Papua terhadap berbagai pelanggaran HAM, perlawanan para petani terhadap perampasan tanah di desa Sukamulya merupakan wujud peminggiran dan penindasan yang terjadi sekarang ini. Perlawanan mereka bukti tindakan yang sesuai dengan hukum moral Allah. Allah membenci penindasan dan peminggiran yang merupakan antetesis dari mengasihi sesama manusia.


Penilaian iman yang benar setidaknya telah ada dalam perlawanan teman-teman Papua dan para petani di Sukamulya. Mereka dapat mewakili ‘kawan-kawan beriman’ yang diistilahkan Paulus yang perlu diutamakan seperti ajaran Yesus. Hingar bingar politik Jakarta yang menguat setelah kasus Ahok setidaknya tidak membuat orang kristenpun hanya jatuh pada keberpihakan identitas namun lupa dengan mereka yang terpinggirkan dan tertindas. 

Senin, 14 November 2016

Komunitas Berbasis Manusiawi


Baru-baru ini aksi massa yang dilakukan sebagai wujud solidaritas antar umat Islam terhadap penistaan agama telah dilakukan. Aksi massa tersebut menyatukan ratusan ribu orang dari berbagai elemen gerakan dan berasal dari berbagai daerah. Tidak hanya cukup sampai disitu, aksi massa lanjutan rencananya akan dilakukan jika harapan dari suara-suara mereka tidak terwujud.

Aksi massa tersebut memang ditunggangi berbagai macam kepentingan, mulai dari sentimen agama, rasis, kekecewaan politik, kepentingan para elit politik bercampur baur menjadi satu. Solidaritas lintas kelaspun menyatu di Jakarta. Orang miskin, kelas menengah, para elit politik, ulama-ulama bergabung untuk bersuara.

Jika melihat pada kejadian terdahulu, sentimen yang membawa isu ras dan agama rentan menimbulkan konflik horizontal, sesama rakyat. Entah ada hubungannya atau tidak, beberapa hari setelah aksi massa tersebut,  terjadi teror bom di Samarinda yang melukai empat orang anak kecil. Bahkan terdengar dengan jelas melalui video-video di YouTube makian terhadap etnis tertentu ketika aksi massa dilakukan.

Kasus yang dimulai dari orasi Ahok di kepulauan seribu ini terlihat dibalut oleh kepentingan agama. “Aksi bela Islam” adalah slogan yang disuarakan. Berbagai tafsiran untuk mendukung gerakan massa ini disuguhkan kepada publik. Berbagai tafsiran terhadap ucapan Ahok dan juga tafsiran kitab suci silih berganti di media massa.

Aksi massa tersebut sebenarnya adalah ciri negara demokrasi. Demokrasi tanpa demonstrasi itu ibarat pesan es teh gak pakai es. Orang yang mengutuk aksi massa atau juga yang menganggap aksi massa sudah tidak relevan mungkin perlu perenungan ulang.

Namun, aksi massa ini pula setidaknya perlu memikirkan isu-isu yang substantif. Isu-isu seperti keadilan, kesejahteraan manusia dan lingkungan seharusnya turut menjadi perhatian. Sayangnya aksi massa sebesar ini tidak dilakukan disaat pengrusakan lingkungan akibat korporasi besar melalui perkebunan dan tambang semakin massif. Demonstrasi tidak dilakukan disaat banyaknya orang Papua hilang seakan tak berjejak. Suara massa tidak ada untuk menuntut keadilan disaat kesenjangan sosial semakin curam.

Peran agama sebenarnya juga bukan hanya mengurusi perkara pembelaan terhadap agamanya. Di dalam tradisi kekristenan sendiri mengenal yang namanya apologetika. Salah satu tugas apologetika adalah pembelaan ketika iman kristen diserang. Selain tugas pembelaan, agama-agama juga berperan untuk menjadikan bumi ini semakin layak untuk ditinggali, melalui perjuangan menegakkan keadilan, kesejahteraan manusia dan lingkungan.

Penafsiran setiap agama untuk menemukan nilai-nilai transformatif yang berdampak bagi dunia memiliki peranan penting. Agama kristen sendiri memiliki sejarah gelap, kemanusiaan pernah dihargai sangat rendah dengan alasan kebenaran. Manusia diasingkan hingga dibunuh atas nama kebenaran. Sejarah kekristenan pernah sangat mengerikan dan berdarah-darah, dimana agama dapat menggerakkan pengikutnya untuk saling membenci dibandingkan menyatukan.

Tinggal di  bumi seharusnya menjadikan kita komunitas berbasis manusiawi, lintas agama dan etnik. Kesadaran akan sejarah secara realistis itu penting bagi pembentukan komunitas berbasis manusiawi. Kesadaran akan sejarah yang kelam membuat kita belajar untuk mencurigai ajaran agama yang seringkali diperalat untuk berbagai kepentingan dan meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan.

Agama merupakan basis dalam masyarakat tetapi juga rentan dipakai sebagai manipulasi ideologis oleh berbagai kelompok. Tidak ada agama yang bebas ideologi, justru mereka yang ingin membebaskan diri dari ideologi akan mudah ditunggangi untuk kepentingan mereka yang kuat yang mempertahankan status quo.

Didalam dunia agama harus sadar akan ekonomi-politik yang mengkondisikan basis kehidupan masyarakat. Paul Knitter, di dalam bukunya satu bumi banyak agama, menuliskan seandainya setiap agamapun bersatu dan mengerjakan tanggung jawab global tetapi tidak mempedulikan analisa ekonomi-politik juga rentan dipakai alat kekuasaan.

Kebenaran universal yang seharusnya dipegang oleh setiap manusia adalah adanya penderitaan akibat ketidakadilan, kemiskinan dan rusaknya bumi akibat manusia. Keberpihakan dan mengutamakan mereka yang miskin dan menderita yang pernah didengungkan oleh teologi pembebasan bisa dijadikan alternatif untuk mempersatukan.

Di tengah berbagai konflik bermuatan SARA, Prof. Tamrin Tomagola mengemukakan di sebuah diskusi, tidak lepas dari persoalan ekonomi-politik. Ketimpangan ekonomi-politik merupakan mesiu bagi meledakkan konflik selain lapisan luar ataupun konteks yang mendukung. Oleh karena itu tidak heran, satu provokator dapat menjadi pemantik meledaknya konflik di Ambon, namun tidak di Sulawesi Utara. SulUt tidak mudah di sulut.

Konflik yang merebak bermuatan SARA rentan meluas menjadi konflik horizontal yang meresahkan rakyat. Intoleransi menjadi kata-kata yang sering dibicarakan. Intoleransi membuat resah dan gerah tetapi disayangkan kita tidak terlalu resah dan gerah dengan ketidakadilan sosial, kesejahteraan manusia dan lingkungan. Hal ini dapat dilihat dari twit peneliti LIPI senior, ketika membahas kasus ocehan Ahok yang dianggap menista Islam disebarluaskan jauh lebih banyak dibandingkan ketika membahas keadilan sosial.

Konflik dan keresahan yang tidak substansial bisa jadi menguntungkan bagi sebagian orang dan rentan ditunggangi oleh kepentingan. Namun yang pastinya hal tersebut tidak membuat kita semakin sadar akan musuh utama kemanusiaan. Konflik horizontal justru membuat kita berprasangka buruk hingga saling benci terhadap mereka yang berbeda tetapi tidak benci dengan ketidakadilan.












Kamis, 10 November 2016

411

Tidak lama setelah demo yang mengatasnamakan Islam 4 November lalu berselang, terdengar lagi isu demo susulan yang akan dilakukan. Demo susulan tersebut awalnya saya dengar dari WA group, tidak hanya itu, isunya juga demo ditunggangi kelompok tertentu yang akan melakukan aksi bom bunuh diri. Selang berapa lama setelah info dari WA kemudian saya juga membaca status teman di FB bahwa sekolah tempat dia mengajar mendapatkan ancaman bom.

Berawal dari kasus Ahok yang dianggap menista agama kemudian demo akbar di Jakarta  hingga isu-isu belum jelas mengenai bom tentunya meresahkan. Rakyat resah dengan pernyataan Ahok sehingga memicu gerakan massa dari berbagai daerah melakukan demonstrasi, adapula rakyat yang resah karena diakhir demo ada kerusuhan hingga rakyat resah karena ancaman bom. 

Mengenai Ahok, kubu Islam sendiri terlihat terbelah menanggapi isu ini. Ada yang menganggap Ahok penista agama ada pula yang tidak. FPI adalah salah satu ormas yang menghujat keras Ahok. Media sosial juga menjadi penggerak kemarahan massa dengan status-status yang menjelaskan kesalahan Ahok.

isu mengenai agama, etnis dan rasis memang sangat cepat menjadi bahan bakar massa untuk melakukakan pergerakan. Kita dapat belajar dari kasus Ambon, Poso, Sampang, Sampit hingga Jakarta. Rakyat kemudian menjadi korban akibat isu tersebut sehingga terjadi konflik horizontal hingga dapat mengorbankan nyawa.

Isu SARA, melalui sentimen etnik dan agama merupakan sumbu pemicu ledakan bom konflik di Indonesia. Namun, menurut Prof. Tamrin, yang pernah di siram teh ketika diskusi oleh Munarman dan disiarkan langsung tvO**, isu SARA hanyalah tampilan luar dari konflik. Ibarat sebuah bom rumah, selain sumbu, bom tersebut juga memiliki lapisan luar dan amunisi di dalamnya.

Lapisan luar sebuah bom yang menjadi fasilitator konflik dimulai dari konteks lokal, nasional dan Internasional. Konflik dapat terjadi dapat terlihat dari beberapa indikator dari konteks lokal. Indikator tersebut antara lain maukah kita bertetangga, bersekolah, bekerja, berorganisasi hingga yang tertinggi menikah dengan orang yang berbeda SARA. Dalam konteks Nasional dapat terlihat dari “penyekatan” SARA dalam lingkungan pemerintahan dan juga konteks internasional yang menopang aksi konflik.

Amunisi merupakan akar dari konflik. Akar tersebut adalah struktur ekonomi-politik. Ketimpangan ekonomi-politik, ketidakadilan, menjadi amunisi yang ampuh untuk meledakkan konflik. Sumbu yang tampak melalui perbedaan etnik dan agama merupakan tampilan luar yang di isi oleh ketidakadilan untuk memicu ledakan konflik.

Jika lapisan luar, amunisi dan sumbu telah selesai dibuat maka yang terakhir beraksi untuk meledakkan bom adalah pemantik. Provokator, dalam hal ini diibaratkan dengan pemantik. Jika pemantik telah dinyakan maka meledaklah bom tersebut.

Prof. Tamrin menghasilkan teori ini setelah melakukan penelitian di Halmahera dan Ambon. Menurutnya kombinasi beberapa faktor tersebutlah yang memicu konflik. Dan faktor-faktor tersebut dapat diterapkan di berbagai konflik di Indonesia.

Konflik yang diwarnai isu SARA ini rentan menjadi konflik horizontal, sesama rakyat. Tidak heran setelah kasus Ahok maka ada isu yang menyerang kaum minoritas. Kemanusiaan digilas atau viktimisasi istilah Paul Knitter, tidak hanya mereka yang diserang namun yang menyerang, tidak hanya yang ditindas tetapi juga yang menindas.

Berbagai kasus tersebut justru berdampak bagi penderitaan rakyat. Namun tentunya dengan konflik horizontal antar sesama kita menjadi lupa untuk melawan musuh rakyat yang lebih besar, yakni ketidakadilan struktural yang menjadi amunisi ledakan konflik.

Ketidakadilan struktural ekonomi-politik hanya bisa dilawan dengan cara rakyat bersatu bukan terpecah belah. Jika teori Adam Smith benar, maka ada tangan yang tak tampak (invisible hand) yang justru mengambil keuntungan dari kondisi ini. Tangan tak tampak yang bersifat demonis. atau pula mungkin praktik devide et impera ala Belanda semakin disempurnakan justru sekarang ini.



       
Diberdayakan oleh Blogger.

Featured Post Via Labels

Instagram Photo Gallery